Setelah lisensi Spider-Manmenjadi bagian dari Disney, Sony Pictures tentu kehilangan salah satu pundi uang terbesarnya. Tetapi, Sony tak melepaskan semua lisensinya ke Disney, dia masih memiliki sebagian hak untuk mengontrol karakter Spider-Mansebagai karakter dari komik Marvel. Maka, muncul ide dari Sony Picturesuntuk membuat sebuah film animasi tentang karakter Spider-Man ini. Proyek ini tentu dianggap sebelah mata oleh penikmat film.
Spider-Man: Into The Spider-Verse menjadi proyek film animasi berdasarkan karakter Spider-Man terbaru dari Sony Pictures. Film ini disutradarai oleh Bob Persichetti, Peter Ramsey, dan Rodney Rothman. Film ini juga mendapatkan supervisi naskah dari Phil Lord yang mendapatkan bantuan penulisan dari Rodney Rothman. Ketika sudah cukup banyak karakter Peter Parker di dalam film Spider-Man, film ini mengambil arc character Miles Morales sebagai gantinya.
Meskipun, ketika trailer film ini keluar, masih banyak yang beranggapan bahwa sudah terlalu banyak film dari karakter Spider-Man yang dibuat oleh Hollywood. Spider-Man: Into The Spider-Versediramaikan oleh banyak bintang yang menjanjikan. Ada Jake Johnson, Hailee Steinfield, dan Mahershala Ali di pengisi suaranya. Serta, Shameik Moore sebagai pengisi suara karakter utamanya, dan masih ada banyak nama seperti Nicolas Cage, Zoe Kravitz, hingga Liev Schreiber.
Hingga diwaktu film ini rilis, banyak reaksi positif yang keluar saat itu. Beberapa orang bahkan ada yang menobatkan film ini sebagai film Spider-Man terbaik yang pernah dibuat dan salah satu film animasi terbaik tahun ini. Sebagai film animasi, Spider-Man: Into the Spider-Verse memang bisa memberikan visual animai yang berbeda dengan film-film animasi komersial pada umumnya dan memberikan warna baru dalam medium film animasinya.
Sebagai sebuah film Spider-Man, film ini memang belum bisa dikategorikan sebagai yang terbaik dari yang sudah ada. Salah satu yang terbaik mungkin lebih tepat, karena Spider-Man: Into The Spider-Verse adalah sebuah film yang sangat solid. Spider-Man: Into The Spider-Versememiliki ide cerita yang gila tetapi juga memiliki pengarahan cerita yang sangat mumpuni sehingga ide gila itu bisa berubah menjadi sebuah film yang keren luar biasa.
Spider-Man: Into the Spider-Verseini memang terfokus pada sosok Miles Morales (Shameik Moore), seorang murid pintar yang merasa terjebak di sekolahnya dan keluarganya. Dia merasa keluarganya tidak mendukung hobinya yang suka membuat mural. Sehingga, dia pergi ke rumah pamannya untuk melampiaskan hal itu. Sang paman bernama Aaron (Mahershala Ali) ini mengajaknya ke sebuah tempat agar melampiaskan keinginan Miles.
Miles melampiaskan semua hobinya ke dalam mural yang dia buat hingga dirinya tak sadar bahwa ada laba-laba mutan yang mengigitnya. Keesokan harinya, Miles pun memiliki perubahan dan kekuatan. Ya, cerita Miles Morales masih terasa memiliki cerita Spider-Mansecara generik. Tetapi ide gila itu muncul ketika konflik utamanya muncul. Memberikan sebuah nafas segar sekaligus tributekepada komik-komik Spider-Man yang pernah ada.  
Di mana di dunia Miles, Peter Parker (Jake Johnson) masih lah menjadi sosok Spider-Man yang diagungkan banyak orang. Datanglah sang musuh bernama Wilson Fisk (Liev Schrieber) yang sedang berusaha membuat mesin yang bisa membuat dunia dari dimensi lain saling berdatangan. Hal inilah yang membuat semua karakter Spider-Man yang pernah dibuat bisa datang berada di satu dunia. Mulai dari Spider-Gwen, Spider-Ham, Spider-Noir, dan Spider-Man Peter Parker lain yang berbeda.
Ide gila macam ini tentu akan sangat susah untuk dijadikan sebuah film live action. Mengumpulkan bermacam-macam Spider-Man dengan berbagai konfliknya, selain budget yang akan membengkak sehingga sangat berisiko, juga belum tentu ceritanya bisa tersampaikan dengan baik seutuhnya. Bob Persichetti, Peter Ramsey, dan Rodney Rothman berhasil membuat Spider-Man: Into The Spider-Versemenjadi sebuah film animasi yang rumit tetapi masih sangat nikmat untuk diikuti.
Kerumitan di dalam filmnya masih dalam taraf yang menyenangkan. Seakan mereka bertiga tahu, bila film ini dijadikan sebagai sebuah film animasi, masih ada target segmentasi anak-anak yang juga harus bisa dicakup. Terlebih, film animasi ini juga membawa karakter superhero yang sangat dikenal oleh banyak orang dari berbagai kalangan. Mereka bertiga seakan secara pelan-pelan menuntun semua penontonnya agar menikmati setiap alur cerita beserta konfliknya yang sedang ditawarkan.
Tak hanya sekedar rumit, tetapi setiap karakternya juga bisa digali dengan baik. Akan ada rasa simpati yang muncul kepada setiap karakter Spider-Man yang muncul dan karakter-karakter pendukung yang semakin mengembangkan karakter Miles Morales sebagai karakter utama. Dengan pengembangan karakter dan penuturan yang tepat, film ini tak hanya sekedar menghibur dan menyenangkan penontonnya. Di saat yang tepat, Spider-Man: Into The Spider-Verseakan bisa menyentuh penontonnya.
Selain bagaimana film ini bisa menuturkan kisah rumitnya dengan baik, Spider-Man: Into The Spider-Verse juga memiliki visual yang unik dan menarik. Kecantikan setiap menit animasinya akan terasa sangat berbeda dibandingkan dengan film-film animasi pada umumnya. Tidak berusaha menjadikannya menjadi senyata mungkin, tetapi lebih kepada menjadikannya sebagai tribut gambar pada komik yang terlihat di setiap framing filmnya.
Spider-Man: Into The Spider-Versepun masih dipercantik lagi dengan balutan musik dan soundtrack yang nuansanya makin mendukung filmnya. Sehingga, tentu saja Spider-Man: Into The Spider-Versemenjadi salah satu tontonan yang mencuri perhatian di tahun ini ketika menuju akhir tahun 2018. Menjadi yang terbaik bukan salah satu inti dari film ini, tetapi menjadi salah satu yang terbaik dan unik sepertinya lebih tepat dengan tujuan Spider-Man: Into The Spider-Verse. Hal itu sesuai dengan pesan di dalam filmnya, bahwa semua orang bisa menjadi yang terbaik.