Mendengar judul ini, seharusnya film ini akan dibuat menjadi film follow-up dari The Mummy yang menjadi bagian dari Dark Cinematic Universe. Sayang, di pertengahan jalan, proyek itu harus berhenti karena performa The Mummy yang tak baik di box office domestik. Iya, secara penghasilan worldwide, The Mummy masih cukup baik. Meski, penonton juga mengeluhkan betapa bosannya film yang diarahkan oleh Alex Kurtzman.


Maka dari itu, The Invisible Man ini berubah arah. Dari menggunakan Johnny Depp sebagai bintang utamanya menjadi Elisabeth Moss. Tapi, tetap saja film ini adalah adaptasi dari novel karya H.G. Wells. The Invisible Man disutradarai oleh Leigh Whannel yang sempat terangkat namanya saat menyutradarai Insidious: Chapter 3 dan Upgrade. Tentu saja dengan semua rekam jejaknya, The Invisible Man akan menitikberatkan filmnya sebagai sebuah film horor.

Ini jelas berbeda jauh dengan tujuan utama The Invisible Man di awal-awal yang akan menunjukkan classic monsters sesuai dengan film sebelumnya. Tetapi, bukan berarti berbeda dengan tujuan awal akan membuat film ini tak memiliki performa prima, kan?

Maka dari itu, sambutlah sebuah cerita yang dibuka dengan sebuah adegan yang sangat menegangkan. 10 menit pertama film ini, penonton sudah dihajar dengan banyaknya ketidakpastian yang membuat penontonnya bertanya-tanya tetapi bisa masuk merasakan intensitasnya. Cecilia (Elisabeth Moss) sedang berusaha kabur dari rumah sang suami. Dia ternyata sudah merencanakannya sejak jauh-jauh hari.

Iya, dia sedang tak nyaman dengan kelakuan sang Suami, Adrian Griffin (Oliver Jackson-Cohen) hingga membuatnya tak tahan lagi. Tetapi, hal ini tak lantas membuat Cecilia bisa kembali menjalani hidupnya normal lagi. Dia tetap dihantui oleh sikap Adrian yang membuatnya merasa tak aman. Tetapi, hal mengejutkan terjadi. Adrian ternyata ditemukan meninggal bunuh diri. Cecilia mendapatkan warisan dari Adrian tetapi ternyata teror baru bagi dirinya baru dimulai hari ini

Tak hanya Cecilia yang merasakan teror dari Adrian. Tetapi, penonton juga ikut merasakan teror Adrian. 

Artinya, Leigh Whannel sebagai sutradara berhasil mengarahkan The Invisible Man dengan baik. Buktinya, segala intensitas yang ada di dalam film ini bisa dirasakan oleh penontonnya. Leigh Whannel tahu benar memanfaatkan konsep creature-nya. Sehingga, teror demi teror datang di setiap menitnya. The Invisible Man ini memang memberikan sebuah perubahan dalam adaptasinya.

Ada penambahan unsur fiksi ilmiah di dalam film ini ditambah dengan misteri yang berusaha disebar di sepanjang film. Sehingga, penonton pun penasaran seperti apa The Invisible Man ini akan diselesaikan. Penulisan naskahnya pun sangat pintar. Ada set-up cerita yang dibuat dengan pondasi yang sangat kuat untuk membangun tensi dan misterinya. Sehingga, film ini bukan sekedar merapatkan tensi seperti yang dilakukan oleh film-film serupa. Apabila penulisannya tak diperhatikan, maka film ini bisa jatuh ke sajian yang itu-itu saja.

Meski The Invisible Man merentang hingga 124 menit, tetapi dijamin tak akan timbul perasaan bosan. Sebuah atmosfir horor dibangun begitu kuat oleh Leigh Whannel. Sebuah adegan yang memperlihatkan kekosongan saja bisa menimbulkan perasaan tidak nyaman dan jantung berdebar bagi penontonnya. Seru memang, sepanjang film merasakan sebuah teror dari makhluk yang wujudnya pun tak terlihat.

Tak hanya pengarahannya yang brilian, tetapi juga akting Elisabeth Moss yang sangat meyakinkan. Dirinya berhasil menangkap kegelisahan dari penonton yang terteror dengan makhluk yang tak kasat mata di layar. Tanpa performanya yang kuat, tentu film ini juga tak akan bisa tampil gemilang. Bahkan, berkat penampilannya pun, berhasil menggali lebih dalam sebuah pesan yang sebenarnya secara implisit menampar penontonnya.

The Invisible Man ingin sekali menyampaikan banyak pesan tentang sebuah sistem sosial dan gender di dalam filmnya. Menyelipkannya dalam kisah-kisah yang seru dan mise en scene yang mendukung membuat pesan di dalam The Invisible Man ini tersampaikan dengan cara yang lebih subtil.

Ini adalah sebuah gambaran tentang perempuan dan problematikan hidup di dunia

Perempuan selalu menjadi korban atas kedigdayaan seorang laki-laki. Bahkan, dunia pun sering mendapatkan sebuatan “man’s world”. Sebegitu jahatnya dunia yang ternyata sangat berpihak kepada laki-laki ini. Film ini berusaha memperlihatkan bagaimana perempuan berjuang untuk mendapatkan haknya memilih jalan hidupnya sendiri saja susahnya setengah mati.

Adrian, ditemukan bunuh diri tetapi digambarkan masih saja meneror sang istri. Iya, dalam wujudnya yang tak kasat mata saja, perempuan masih saja merasa tak aman dari serangan teror laki-laki. Perempuan dikontrol, tak bebas, tak punya banyak pilihan, dan menjadi pusat perhatian. Seakan-akan semua orang ingin mengatur perempuan agar kembali ke “kodratnya”. 

Hal ini muncul jelas dalam mise-en-scene yang membekas di ingatan. Adegan di saat Cecilia menghadap ke sebuah cermin dan sedang ingin mencoba pakaian barunya. Pergerakan kamera seakan-akan menjadi “mata” Adrian sebagai laki-laki yang menyorot Cecilia sebagai perempuan. Tentu, Cecilia merasa tak nyaman dan penuh akan intimidasi padahal yang memperhatikan dari belakang pun tak kasat mata.

Budaya di dunia ini acap kali membuat perempuan sebagai objektifikasi. Diperhatikan oleh banyak norma yang mempengaruhi bagaimana perempuan mengambil langkah selanjutnya. Tetapi, norma-norma itu terkonstruksi atas budaya patriarki yang memperlihatkan kekuatan laki-laki di dunia ini meski dalam wujud yang tak kasat mata sekalipun seperti Adrian di film ini.

The Invisible Man tak hanya sekedar menjadi sebuah film horor dengan unsur fiksi ilmiah yang menegangkan untuk disaksikan. Tetapi, juga menjadi tempat untuk menggambarkan realita tentang bagaimana masih banyaknya ketimpangan perempuan dan laki-laki di dunia ini. Kalau saja tak bisa menangkap pesan subtil di dalam filmnya, setidaknya kalian masih bisa merasakan tensinya yang mungkin bisa lebih padat tetapi masih bekerja sangat efektif untuk mencengkram penontonnya. Bagus!