Berhasil mengagetkan banyak pihak termasuk juri-juri Oscars, Jordan Peele dengan debutnya sebagai sutradara dalam Get Out dipuji oleh banyak kalangan. Filmnya pun berhasil menyabet penghargaan Best Original Screenplay di Academy Awards. Tentu, hal ini membuat nama Jordan Peele melambung tinggi dan banyak orang akan berantisipasi dengan karya-karya darinya karena namanya sudah layak diperhitungkan di industri perfilman Hollywood.
Ketika dirinya mengumumkan untuk membuat film baru, banyak orang sudah sangat mawas diri. Us, judul film terbaru dari Jordan Peele yang lagi-lagi kembali mengeksplorasi dirinya lewat genre horor. Setelah Get Out yang tak hanya berperan sebagai sebuah film horor saja tetapi juga sebagai sebuah kritik sosial, tentu akan menarik untuk tahu apa yang coba disampaikan oleh Jordan Peele lewat film keduanya ini. Tentu, film horornya memiliki sesuatu yang unik dan itulah yang dinantikan.
Us film milik Jordan Peele ini dibintangi oleh pemenang Academy Awards, Lupita Nyong’o dan Winston Duke yang pernah bertemu lewat film Black Panther. Us ini tak hanya disutradarai oleh Jordan Peele, tetapi naskah dari film ini pun juga ditulis langsung olehnya. Sehingga, tentu Jordan Peele sudah tahu benar film ini nantinya akan dibawa ke mana. Melihat trailernya yang sudah memiliki nuansa yang seram dan menganggu itu, tentu membuat beberapa orang menantikan film ini.
Us milik Jordan Peele ini berawal dari kisah seorang keluarga yang terdiri dari Adelaide (Lupita Nyong’o), Gabe (Winston Duke) –sebagai sepasang suami istri dengan kedua anaknya –Zora (Shahadi Wright Joseph), dan Jason (Evan Alex). Mereka sedang melakukan liburan musim panas di rumah tepi pantai milik orang tua Adelaide. Liburan mereka pada awalnya terasa tenang dan biasa saja, mereka bahkan tampak bahagia. Tetapi, malapetaka datang tiba-tiba.
Sekelompok orang tiba-tiba berhenti di depan rumah mereka di malam hari. Tentu hal ini membuat mereka semua ketakutan dan penasaran dengan apa yang terjadi. Mereka pun dengan sigap menyerang dan memberikan teror kepada mereka. Hingga ketika sekelompok orang tersebut masuk ke dalam rumah, barulah mereka menyadari ada yang janggal. Sekelompok orang yang menyerang mereka memiliki paras yang sama persis dengan mereka.
Jordan Peele sebagai sosok sutradara horor yang baru saja terjun, tentu memberikan wajah tersendiri untuk genre ini. Horornya bukan horor spiritual yang membahas tentang penampakan-penampakan makhluk astral. Dalam karya-karyanya, Jordan Peele memberikan definisi baru tentang genre horor itu sendiri. Memberikan suatu misteri dengan hal-hal yang tidak pasti dan memaparkan isu tertentu yang bilamana terjadi betul dalam tatanan masyarakat akan benar-benar mengerikan untuk kelangsungannya.
Hal itu sudah terbukti lewat film Get Out dan terjadi lagi dalam film keduanya ini. Film tahun kedua dari Jordan Peele ini sekali membuktikan bahwa film horornya bisa menyampaikan pesan kritik sosialnya tentang tatanan masyarakat di Amerika sana. Mari sebelumnya kita bahas Ussebagai sebuah film horor itu sendiri. Tanpa memahami alegori dan pembahasan lain tentang isu sosialnya, film Usini mampu memberikan teror yang signifikan untuk penontonnya.
Sepanjang filmnya yang mencapai 115 menit, Us mampu memberikan tensi yang luar biasa agar penontonnya terpacu adrenalinnya. Sebagai sebuah tontonan, Us tentu saja bisa dijadikan sebagai medium hiburan yang luar biasa menegangkan dan cocok untuk ditonton ramai-ramai dengan teman yang juga suka film horor. Jordan Peele bisa membangun atmosfir yang menganggu –dalam artian yang baik –kepada penontonnya. Hal ini cocok dengan Us yang memberikan jawaban sedikit demi sedikit dalam filmnya.
Us dibangun dengan misteri yang cukup kuat yang akan membuat penontonnya penasaran. Dengan teror yang dihajar habis-habisan, penonton tentu ingin tahu bagaimana film ini akan mengakhiri filmnya. Meskipun, dalam penuturannya, Jordan Peele tak seratus persen mulus untuk mengantarkan ceritanya. Paruh kedua filmnya menunjukkan bahwa Us memiliki cerita yang terasa ditarik ulur. Tensinya tak lagi dijaga hingga mungkin menimbulkan penentuan adegan yang kurang bijak demi tetap bisa memberikan tensi kepada penontonnya.
Minor kecil itu mungkin akan sedikit membuat Us terasa ditarik ulur apalagi di paruh ketiganya yang lagi-lagi Peele masih belum bisa menutup kisahnya dengan cara yang pas. Beruntungnya, minor-minor itu bisa sedikit tertutupi lewat penampilan Lupita Nyong’o yang luar biasa berkharisma. Memainkan dua karakter dengan dua sifat yang berbeda tetapi bisa membuat penontonnya bersimpati kepada keduanya. Serta, musik dari film ini yang juga tak dibuat dengan main-main dan terasa pas dengan atmosfir filmnya.
Jordan Peele memang memiliki alegori yang cukup besar saat memberikan kritik sosialnya tentang keadaan negara Amerika terhadap warganya. Mungkin, akan ada pertanyaan bagi beberapa orang saat film ini akhirnya selesai. Tetapi, bila saja lebih teliti lagi, Peele sudah menaruh simbol-simbol itu dari awal film. Mulai dari setting tahun, beberapa ayat alkitab, hingga cuplikan kecil tentang keadaan negara yang menjadi sorotan Peele untuk dikritisi.
Ini bukan lagi tentang ras seperti yang dilakukan oleh Peele dalam film Get Out. Ini tentang tatanan sosial masyarakat dan kesejahteraannya karena ulah pemerintahan. Film ini adalah tentang siapa yang berkuasa terhadap satu individu tersebut karena realita yang telah mereka pilih untuk dibentuk di dalam dirinya dan bagaimana hal itu akan berpengaruh terhadap reputasi seorang individu itu sendiri. Kritik sosial seperti ini tentu menjadi sangat menarik dan unik karena ternyata ditemukan lewat sajian film horor milik Jordan Peele.
Mungkin, penonton dengan kondisi sosiokultural dan berada di wilayah yang berbeda membutuhkan kembali riset yang mendalam agar semua nampak lebih jelas. Tetapi, Us ini mungkin akan sangat berarti dan memiliki relevansi terhadap warga Amerika di sana. Get Out masih menjadi karya dari Jordan Peele yang lebih baik karena naskah aslinya yang segar meski pengarahan dan teknisnya film Uslebih menonjol. Tetapi, Us masih sangat menarik untuk ditonton sebagai film horor itu sendiri dan sebagai alat untuk mengkritisi isu sosial di sana.